Sabtu, 21 Mei 2011

JK Minta PSSI Jangan Terlalu Tergantung Kepada FIFA

Berita sore tadi di detik.com, sungguh melawan arus.
JK Minta PSSI Jangan Terlalu Tergantung Kepada FIFA
Pasti banyak tanggapan yang muncul. Dan memang benar, tdk satupun yang mendukung himbauan Mantan Wapres ini. Mereka kebanyakan kesal dan marah kepada 2 kandidat yg terang terangan sudah dicoret FIFA tapi menang di Pemilikan Suara yaitu pasangan GT&AP yang didukung oleh Kelompok 78. Lha kok mereka bersikukuh tetep ingin mencalonkan diri.

Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla meminta PSSI jangan terlalu menggantungkan diri pada FIFA. Hal itu terkait berlarut-larutnya kisruh di tubuh PSSI hingga Kongres yang dihentikan tanpa menghasilkan keputusan apapun.

JK bahkan meminta PSSI bisa memiliki kedaulatan sendiri. "PSSI Harus lebih mendahulukan kedaulatannya sendiri dibanding dengan (selalu bergantung) ke FIFA. Jangan serba ada apa-apa FIFA, soal kecil FIFA," katanya.

JK menilai, FIFA sendiri tidak memperhatikan Indonesia seperti yang dibayangkan masyarakat banyak. "Saya yakin FIFA juga tidak memperhatikan Indonesia seperti itu," ungkapnya.


Saya setuju dengan pak JK, FIFA menutup mata dan sengaja membiarkan Nurdin tetap bercokol. Akar masalah inilah yang memicu kelompok 78 melakukan opsi lain yaitu mendirikan LPI dan perseteruan waktu itu hanya mereka yang tampil berjuang. Bahkan Menpora pun jugamendukung adanya LPI demi kemajuan persepakbolaan Indonesia, toh dibawah ketiak statuta FIFA bang Nurdin selalu berlindung. Padahal jelas2 masyarakat sepak bola Indonesia telah menolak dan mendesak turun jabatan karena tersangkut kasus pidana. Apa yg dilakukan FIFA? Tidak ada tekanan sedikitpun kepada Nurdin shg ybs tambah yakin bahwa ia masih layak memimpin. Kenapa FIFA tdk menyukai 2 kandidat ini? Jawabnya mudah. Perolehan masukan dana FIFA akan berkurang karena ada ajang Liga LPI ini. Ibarat pasar yang dulunya mendominasi sekarang ada kompetitor lain, maka tidak bolehlah kompetitor itu berdiri. Goals FIFA itulah yang sebenarnya dibalik semua ini, dan kita menjadi pion2 yang tdk menyadari semua itu. Alasan Rules dll dipakai utk menekan spy kebijakan FIFA tetap langgeng. Polemik Ketum PSSI lama akhirnya selesai melalui Menpora dan FIFA lagi2 tdk fair tetap mencoret 2 kandidat tsb. Kondisi inilah yg tetap memicu konflik. Jd intinya, bukan GT&AP yang bermasalah tp FIFA lah yang bermasalah. Jika 2 orang ini diloloskan, tentulah masalah Pemilihan Ketum PSSI yg baru dpt segera terwujud. Jika 2 kandidat ini diabaikan, banyak yg memetik situasi positif. Calon Ketum PSSI yg diloloskan KN adalah figur yg keenakan, mereka toh sama sekali tdk ada gaungnya saat tjd polemik dg Ketum lama dibanding kelompok 78 yg terang2an menentang dan berkeinginan mereformasi PSSI dg mendukung GT&AP. GT &AP scr fakta telah berani menentukan pilihan demi menyelamatkan Persepakbolaan kita. Sebagai Bangsa yang berbudaya, tentulah niat baik tsb diapresiasi. Saya yakin LPI hanyalah pilihan sulit saat itu yg hrs tetap ditempuh. FIFA seharusnya tdk seenaknya mensortir nama-nama Calon Ketum PSSI. Jika ada masalah, seyogyanya 2 nama tsb dipanggil dan dilakukan dialog. Selama ini FIFA tertutup dan sengaja menutup diri terhadap mereka krn LPI dianggap Ilegal. Kebuntuan dan situasi inilah yg akhirnya membawa konflik diantara masyarakat sepakbola kita. Jika orang mengkaitkan politisasi PSSI, lalu siapa saja calon KETUM lain yg ada saat ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar